NAMA : MONICA JESSELYN P.
NIM : D2C 005 185

TUGAS MATA KULIAH PENGANTAR ILMU POLITIK

Pendapat saya mengenai image politik yang kotor :

Image politik yang dibentuk oleh calon presiden, maupun presiden saat ini, yang dibentuk dengan bantuan media, membuat saya tersenyum, yah setidaknya ada usaha untuk memperbaiki citra negatif yang terlanjur mengakar di sebagian benak masyarakat kita. Iklan image yang diusung oleh Megawati contohnya, pada satu versi iklan televisi yang ditayangkan pada saat kampanye putaran pertama pemilihan presiden tahun 2004 silam, ditampilkan dalam format medium close up wajah Megawati dengan senyum keibuannya dikerumuni anak-anak dengan wajah ceria, diiringi narasi sebagai backsound:
“Di balik kelembutanl; Tak kenal lelah; Tegas; Selalu Peduli; Demi Ibu Pertiwi”.
Pesan sederhana yang sangat kuat dan jelas dalam slogan yang menjadi kata kunci iklan kampanye pasangan SBY-JK yaitu : ”Bersama Kita Bisa” di tayangkan di media-media televisi nasional sehingga membentuk kesadaran di benak khalayak calon pemilihnya. Makna yang terkandung dari slogan ini adalah bersama-sama dengan rakyat apapun kesulitan yang di hadapi bangsa ini akan dapat diselesaikan. Apapun partai politiknya SBY presidennya.
Image yang dibentuk oleh kaum elit politik ternyata bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, berhasil menarik simpati, snamun tak jarang juga menuai cibiran. Tak sedikit masyarakat kita yang menganggap iklan politik itu hanya sebagai alat politik untuk membangun opini publik mengenai pemimpin kita ataupun kandidat calon pemimpin. Mereka beranggapan bahwa alat politik itu dibuat demi kepentingan partai/ golongan yang tentu saja ada di baliknya.
Untuk mengisi waktu dalam perjalanan saya menuju Magelang, saya membeli Koran Media Indonesia, edisi hari Jumat, 19 Desember 2008, dimana tampak jelas Headlinenya berbunyi : Anggota DPR makin Malas Bersidang. Rapat Paripurna pada tanggal 18 Desember 2008 berlangsung di ruang kosong. Jumlah peserta rapat sangat sedikit dan tidak kuorum. Jumlah anggota dewan yang mengisi daftar hadir berjumlah 285 dari 550 total anggota DPR. Akan tetapi, dalam ruang sidang hanya ada 65 orang. Padahal rapat itu untuk mengambil keputusan empat rancangan undang-undang. Tanda tangan daftar hadir ternyata jauh lebih berarti dibandingkan dengan kehadiran fisik.
Fakta di lapangan, bahwa rapat dewan yang terkait dengan nasib rakyat tidak pernah kuorum. Sebaliknya, rapat untuk menaikkan anggaran dewan berlipat-lipat atau rapat untuk menentukan studi banding selalu kuorum. Keterlaluan!
Sudah menjadi rahasia umum apabila praktik politik seringkali didominasi oleh trik, intrik dan konflik. Sejak dari bangku perkuliahan saja, saya sudah melihat bagaimana seseorang calon presiden BEM mengupayakan segala cara, mengabaikan etika dan mengumbar janji-janji kepada segenap mahasiswa agar memberi suara pada pemilihan. Akan sangat mulia apabila trik yang dijalankan adalah trik yang jujur, dan positif, mengandalkan kemampuan akademik, wacana, argumentasi, orasi. Tak jarang dalam pelaksanaan kepemimpinan, menuai konflik dan penuh intrik.
Politik pada dasarnya bersifat netral. Saya umpamakan dengan korek api. Kita dapat menggunakannya untuk menerangi malam, ketika lampu mati, dsb. Namun , korek api juga sering digunakan untuk membakar rumah, membakar manusia karena balas dendam. Contoh yang sangat sederhana ini memperlihatkan bahwa baik dan buruk sebuat alat tergantung siapa yang menggunakannya. Karena itu, jika realitas politik pada suatu saat tertentu tampak kotor, maka sesungguhnya para pemain politiknyalah yang mengotorinya dengan sikap dan perilaku yang tidak benar.
Mengapa demikian? Menurut saya hal itu dapat dicermati dari semakin menurunnya kualitas dari elit politik dan juga system politik itu sendiri yang tidak menjunjung kemurnian dan hakikat politik. Semakin banyak kasus tindak KKN yang terjadi dalam tubuh lembaga legislative, yudikatif maupun eksekutif. Kaum elit politik tidak ada yang benar-benar netral dan menyuarakan kepentingan rakyat. Sebab, walaupun mereka datang dengan misi yang menggebu untuk memihak pada rakyat kecil yang benar-benar membutuhkan, pada akhirnya mereka tak akan mampu untuk melawan suatu system kokoh yang menjadi tempat bernaung bagi para elit tersebut. Sejarah mencatat bahwa pernah terjadi ‘pengkhianatan intelektual’, yaitu ketika mereka terjun ke dalam politik, tapi ternyata tidak mampu mengubah keadaan. Mereka malah terseret dan larut dalam pusaran arus politik kotor yang sedang berlangsung, dan bahkan ikut menikmatinya. Seharusnya mereka mengubah keadaan dengan kapasitas keilmuan yang mereka miliki.